Gula, dari Wong Cilik untuk Wong Cilik

Posted: 42013p+00:0001b+00:00Kam, 31 Jan 2013 13:54:43 +0000 28, 2008 in Opini & Fakta
Tag:, ,

PT. Perkebunan Nusantara X, mungkin bagi mayoritas dari anda tidak akrab dengan nama tersebut atau bahkan asing mendengarnya. Lalu perusahaan apakah itu? PT. Perkebunan Nusantara X atau biasa disebut PTPN X adalah perusahaan perkebunan yang merupakan perusahaan resmi pemerintah (BUMN) dan memiliki fokus utama dalam pengolahan gula.

PTPN X berperan erat dalam mengelola perindustrian gula tanah air, dimulai dari sejak tahun 1996 hingga sekarang. Kita mengenal bahwa komoditas gula adalah komoditas penting yang merupakan hajat hidup masyarakat luas, khususnya masyarakat Indonesia. Gula seringkali menjadi bahan-bahan pokok yang dibutuhkan masyarakat sebagai pelengkap dapur hingga menjadi penopang utama sektor-sektor bisnis di Indonesia.

Pasalnya, kebutuhan gula di Indonesia memiliki angka yang tinggi, per tahun 2012 kebutuhan gula Indonesia mencapai 5,2 juta ton per tahun berdasar data dari majalah SWA. Angka yang fantastis!

Data tersebut tidak berlebihan mengingat kehidupan masyarakat dan proses bisnis Indonesia banyak bergantung dari persediaan gula. Namun perlu dicatat bahwa apakah di lapangan, proses produksi gula ini memberikan efek positif ataukah negatif?

PTPN X ternyata menggunakan kurang lebih 90% tebu rakyat yang artinya proses murni yang dihasilkan dari petani lokal, sisanya sekitar 5% adalah tebu dari lahan sendiri. Dengan kapasitas produksi ratusan ribu ton per tahunnya, tentu saja PTPN X memberdayakan banyak petani-petani lokal dalam menggarap target produksi yang ingin dicapai perusahaan.

Hingga pada tahun 2011, grafik keuangan dan investasi yang ditunjukkan PTPN X mencapai titik yang positif dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya. Hal ini tentu menunjukkan pula bahwa perusahaan cukup sehat dalam memberlakukan sumber daya manusia yang dimilikinya, khususnya para petani lokal.

Pembangunan pabrik gula PTPN X terletak pada 11 titik di Jawa Timur, tentunya hal ini membantu peningkatan kondisi ekonomi daerah. Secara langsung, petani dapat merasakan manfaat atas kehadiran perusahaan gula dan peran-peran perusahaan atas standar hidup mereka.

Banyak masyarakat khususnya masyarakat-masyarakat desa yang notabene berprofesi sebagai petani kurang diperhatikan kondisi sosial-ekonominya, tren pekerjaan sebagai petani tidak dilirik sebagai pekerjaan yang menjanjikan masa depan, kebanyakan dari mereka lebih memilih merantau dan mencari pekerjaan buruh yang layak daripada menjadi petani lokal. Kalau ada daging mengapa memilih sayur, iya toh?

Inilah kesalahan paradigma yang terjadi saat ini. Di luar negeri, profesi sebagai petani adalah profesi yang layak baik dari segi sosial-ekonomi sebab tidak bisa dipungkiri bahwa pondasi kebutuhan hidup yang paling utama berasal dari komoditas-komoditas pertanian.

Indonesia memang terkenal dengan slogan “gemah ripah loh jinawe” yang artinya bahwa Indonesia adalah negara makmur, tanahnya subur dan segala macam karunia Tuhan dapat ditumbuhkan di tanah Indonesia. Tidak berlebihan memang!

Namun, kenyataan yang terjadi adalah jauh dari harapan. Indonesia yang dikenal sangat melimpah akan rempah-rempah justru tidak segan mengimpor ber ton-ton komoditas dari negara lain. Lalu yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah kekuatan Indonesia hanya sebatas ini? Atau adakah yang salah dengan sistem yang berlaku?

Jawaban yang mungkin timbul pasti sangat bervariasi, beberapa pandangan lebih menyalahkan bahwa sepenuhnya pemerintah telah salah dalam mengintervensi proses perindustrian Indonesia dan beberapa pandangan lagi menyatakan bahwa Indonesia belum siap untuk mandiri dalam hal memenuhi kebutuhan-kebutuhan nasional, bahkan beberapa lagi ada yang acuh dengan kondisi tersebut seakan hanya mementingkan asal jadi.

Kita tidak bisa langsung menghakimi bahwa pandangan tersebut salah dan pandangan lain adalah benar. Yang perlu kita lakukan seharusnya adalah sama-sama memberi sumbangsih pemikiran maupun ide-ide bagaimana supaya Indonesia memiliki taji di kancah Internasional dan kembali dapat menjadi bangsa mandiri dan berdaya.

Pemerintah pun kami rasa sudah mengetahui inti permasalahan tersebut, kurangnya kemampuan untuk mandiri dalam menyediakan kebutuhan nasional sepertinya menggerakkan pemerintah untuk langsung menangani dan terjun ke lapangan, salah satunya menangani pasokan komoditas gula dengan membangun PT. Perkebunan Nasional X (PTPN X) yang juga berstatus sebagai perusahaan gula pertama di Indonesia dengan harapan dapat mencapai swasembada gula.

Harapan tersebut rupanya tidak terlalu sesumbar, sebab dari sejarah produksi PTPN X, angka-angka yang ditunjukkan cukup besar dan makin meningkat dari tahun ke tahun semenjak didirikannya pada tahun 1996. Harapan paling besar sebenarnya adalah pada aspek kehidupan masyarakat petani lokal atau para wong cilik.

Petani lokal khususnya petani gula adalah aset utama yang perlu didaya gunakan, budaya pemikiran bahwa petani adalah profesi yang tidak cukup modern layak untuk dihapuskan. Banyak cara untuk menghilangkan stigma-stigma tentang wong cilik tersebut salah satunya adalah perbaikan standar hidup para petani gula, dengan adanya industri gula sudah secara langsung membantu perbaikan kondisi masyarakat petani lokal, toh sesungguhnya hasil alam diunduh juga berkat kerja tangan-tangan kecil wong cilik, sudah sepantasnya kehidupan yang baik juga diperuntukkan untuk wong cilik tersebut, berjayalah industri gula Indonesia!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s